Kritik Arsitektur : Kritik Rumah Tinggal


Nama : Erika Budi Hapsari
NPM : 22316362
Kelas : 4TB02
Mata Kuliah : Kritik Arsitektur



KRITIK RUMAH TINGGAL

Sudah hampir 21 tahun, saya menempati rumah yang saya tinggali. Belum pernah sekalipun merasakan pindah rumah. Suka dan duka sudah tertanam di rumah ini. Rumah sederhana yang penuh kehangatan dengan orang-orang di dalamnya. Meskipun hanya sebuah rumah sederhana, namun cukup untuk mencari nafkah dan tempat untuk kembali. Lingkungan yang dipenuhi berbagai macam budaya mendukung keharmonisan dalam kehidupan bertetangga.

Tak perlu menyusuri gang, rumah yang berhadapan langsung dengan jalan raya dan lokasi yang strategis memudahkan akses ke mana saja. Mulai dari angkutan umum yang hanya memanggil supir dari balik pintu hingga stasiun kereta yang jika berlari tidak sampai dua menit. Telinga pun sudah terlatih dengan suara-suara kendaraan yang tiada henti, klakson kereta yang sudah tiada arti bagi kami hingga menjadi alunan musik untuk tidur.

Rumah makan, adalah sebutan yang tepat untuk rumah ini. Rumah yang sekaligus menjadi tempat untuk mencari nafkah memudahkan dalam menghemat waktu dan biaya, tak perlu memikirkan pengeluaran ongkos menuju tempat kerja, bangun kesiangan ataupun emosi dengan hiruk pikuk macetnya jalan di kota Jakarta.

Bertingkat dua lantai tanpa garasi dan tanpa halaman. Cat kuning menghiasi fasad rumah sekaligus ruang dalam lantai satu dengan garis hitam horizontal yang membagi ketinggian dinding. Jendela besar pada fasad membantu dalam pencahayaan dari luar ke dalam. Dari dalam dapat melihat jelas ke luar begitupun dari luar juga dapat melihat cukup jelas ke dalam. Namun, hal yang disayangkan rumah menghadap ke arah Barat, mengakibatkan cahaya yang masuk adalah cahaya yang tidak sehat di sore hari.

Setiap hari pintu rumah terbuka mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengunjung. Ruang tamu sekaligus ruang makan dengan meja panjang, sebuah kipas angin dan hiburan televisi akan menemani jika makan di tempat. Kamar kecil juga tersedia untuk memenuhi panggilan alam.

Ruang tamu yang sekaligus ruang makan menjadi ruang publik yang bebas dimasuki siapapun. Dapur menjadi pembatas ruang privasi, tidak diperkenankan orang asing untuk masuk. Menjadikannya tempat mengolah bahan makanan hingga akhirnya bisa di jual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain bekerja, tak lupa untuk beristirahat dari semua kegiatan yang ada. Lantai dua yang dihiasi dengan cat berwarna hijau terdiri dari dua kamar serta tempat untuk menjemur pakaian.

Tidak ada yang istimewa dari rumah ini. Namun, semua ini adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Karena masih banyak di luar sana yang tidur tanpa alas maupun tanpa atap.

Komentar